Ditjen PAUD-DIKMAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini
dan Pendidikan Masyarakat

Nyudi Dwijo Susilo - Kembangkan Keahlian dengan Budaya

Nyudi Dwijo Susilo - Kembangkan Keahlian dengan Budaya

11 Desember 2018 08:02:23

Yogyakarta memang identik dengan kota budaya. Namun menerapkan nilai-nilai budaya dalam pendidikan formal, apalagi nonformal semacam lembaga kursus dan pelatihan, adalah suatu yang masih sulit untuk diterapkan. Meskipun ada peraturan daerah dan kurikulum muatan lokal, banyak lembaga kursus dan pelatihan yang tidak menjalankannya. Karena pendidikan kursus, kadang hanya mengejar keterampilan atau keahlian tertentu tanpa mendasari dengan nilai-nilai budaya kepada lulusannya.

Menurut Nyudi Dwijo Susilo MPd, pengelola lembaga kursus dan pelatihan ASMAT Pro, sejatinya pendidikan itu tidak mungkin bisa dipisahkan dari kebudayaan. Pada hakekatnya pendidikan adalah proses pembudayaan, dengan tujuan agar peserta didik kelak dapat hidup layak dan berguna bagi diri dan bagi kehidupan masyarakatnya, sehingga mesti berbasis budaya bangsanya.

“Seseorang memiliki kemampuan dan keahlian tinggi. Jika tidak berbudaya, maka dia tidak mungkin berarti. Misalnya sopan atau bergaul secara baik, maka ilmunya tidak bisa bermanfaat dalam kehidupan. Hanya buat dirinya sendiri,” papar Nyudi mengawali pembicaraan dengan Warta PAUD dan Dikmas.

Untuk dapat berperan secara tepat dalam kehidupan sosialnya, kata Nyudi, seseorang juga harus memiliki aspek personal (kepribadian) yang baik. Dengan memiliki kemampuan personal (kepribadian) yang baik seseorang bisa disukai atau dipercaya oleh orang lain atau masyarakat. Dalam hal ini kepribadian yang dimaksud adalah bagaimana cara seseorang berpikir, bersikap, berbicara, dan bertingkah laku.

“Tanpa kematangan aspek personal dan sosial, seseorang tidak akan mampu menyelesaikan masalah-masalah kehidupan, meskipun seseorang memiliki pengetahuan dan kemampuan teknis,” ungkapnya.

Nyudi menceritakan bahwa dirinya tertarik pada dunia pendidikan nonformal karena panggilan diri, dan kepedulian melihat banyak lulusan sekolah yang menjadi pengangguran karena tidak memiliki keahlian. Selain itu, karena latar belakang kedua orang tuanya yang juga guru PNS di sekolah dasar. Sedang sang ibu juga menjadi pengelola pelatihan dan perias pengantin daerah. Membekas dalam pikirannya untuk meneruskan kemampuan dan keahlian sang ibu.

“Saya sebenarnya bercita-cita ingin menjadi dosen. Paling tidak lebih dari yang digapai orang tua,” papar pria yang baru saja menjadi juara 1 Instruktur Kursus Tata Kecantikan pada ajang Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan DIKMAS) tahun 2018 di Pontianak itu.

Menurut, pria kelahiran Ponorogo, 5 Februari 1982, itu sejak SMA dirinya telah bergelut dengan dunia pendidikan dan pelatihan yang dikelola ibu dan kakaknya yakni ASMAT Production, kepanjangan dari Ajang Seni Akting Musik dan Tari. Bahkan sejak SMP, ia sudah hidup mandiri, karena saat belajar di SMP Muhammadiyah I Ponorogo, sudah kos dan jauh dari orang tua.

“Masa kecil saya habiskan di kampung dengan sekolah, menggembala kambing, mencari ranting dan yang bisa menghasilkan uang. Meskipun kedua orang tua saya sebagai PNS (guru SD), tapi kehidupan kami bisa dibilang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga kami terbiasa mandiri,” cerita bungsu dari empat bersaudara ini.

Berdasarkan pengamatan di masyarakat dan pengalaman hidup yang dijalaninya, Nyudi pun berpikir ingin memberikan sesuatu bagi masyarakat. Terutama warga yang tidak belajar dan tidak memiliki keahlian. Meskipun kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (dulu IKIP) pada jurusan Bahasa Jerman, Nyudi masih memendam untuk menggeluti dunia pendidikan luar sekolah.

“Memasuki tahun kedua kuliah. Saya mengalami masalah, karena sekolah mulai menutup bahasa Jerman. Sehingga saya berpikir keras untuk masa depan nanti, Saya memutuskan untuk menambah skill dengan mengikuti kursus modeling dan MC, selain itu saya mengikuti UKM Paduan Suara di kampus. Selain mendapat ilmu keterampilan, saya juga mendapat uang untuk membiaya kehidupan dan kuliah saya,” kenang Yudi.

Pada masa itu, Nyudi mulai menemukan arah untuk kehidupannya. Ia mulai dipercaya membantu mengelola lembaga modeling, sekaligus mengikuti kursus dan juga memulai karirnya di bidang MC.

“Saya merasakan betul mengelola lembaga kursus, mulai buka pintu, mengepel, mengurus administrasi hingga menjadi LKP seperti sekarang,” papar Nyudi.

Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Colour Models Management adalah tambatan hati Nyudi. Selain milik keluarga, juga sebagai wujud panggilan hatinya berkiprah dan memberikan ilmu serta keahliannya untuk tanah kelahirannya.

LKP Colour Models Management adalah satu divisi usaha dari ASMAT Production Yogyakarta. ASMAT Production berdiri mulai dari tahun 1992. ASMAT adalah singkatan dari Ajang Seni Akting Musik dan Tari. Pada awalnya lembaga ini merupakan sanggar seni, tetapi sejak tahun 2004 berubah menjadi Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) yang bergerak dalam bidang pelatihan modeling, acting, presenting, menjahit, rias pengantin, dan tata kecantikan kulit dan rambut di bawah naungan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman.

“LKP ini awalnya milik ibu berupa sanggar. Lalu dikembangkan Kakak. Setelah saya kuliah hingga sekarang saya lakukan perubahan dari sisi nama, organisasi, kelembagaan, program hingga kurikulum. Sehingga benar-benar lembaga yang bisa bermanfaat bagi anak bangsa,” papar Nyudi.

Pada tahun 2009 LKP Colour Models Management juga mendapatkan izin operasional dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sleman. Selain menyelenggarakan program pelatihan reguler, LKP Colour Models Management juga menyelenggarakan pelatihan yang didanai oleh dana blockgrant Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pelatihan modeling yang dikembangkan di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Colour Models Management Yogyakarta adalah modeling plus, dimana materi yang diberikan bukan hanya kemampuan dalam bidang modeling saja (catwalk, pose), akan tetapi juga kemampuan penunjang yang lainnya yaitu, public speaking, pengembangan diri, grooming, etiket, make up dan hair styling, service excelent dan kewirausahaan.

“Pemberian materi catwalk, pose, pengembangan diri, public speaking, service excellent dan kewirausahaan bertujuan untuk pengembangan aspek personal siswa, sehingga mereka mampu mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Mampu berkarya dan mandiri di masyarakat,” papar Nyudi.

Selain materi itu, juga ada kegiatan tambahan yaitu malam keakraban, table manner, dan uji tampil. Materi berupa praktek lapangan ini bertujuan untuk pengembangan aspek sosial siswa, dalam kegiatan ini mereka berinteraksi langsung dengan teman sesama peserta dan juga orang luar, bahkan dengan dunia kerja yang mungkin nantinya akan mereka geluti.

“Siswa tidak hanya profesional di bidang modeling, tetapi juga bisa mengembangkan kemampuannya yang lain. Sehingga nantinya mereka dapat membawa diri dalam kehidupan bermasyarakat,” lanjut Nyudi.

Kurikulum yang digunakan dalam lembaga ini adalah kurikulum lokal yang disusun oleh lembaga, dikarenakan untuk pelatihan modeling, belum ada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Dalam kurikulum dan kegiatan belajar mengajarnya, kata Nyudi, LKP Color Models Managemen juga mengintegrasikan nilai budaya ke dalam materi-materi pembelajaran meliputi standar isi kurikulum, pengembangan silabus, pengembangan bahan ajar, pelaksanaan pembelajaran hingga evaluasinya. Bahkan saat wisuda, lulusan LKP Color Models diwajibkan untuk memakai tradisional atau batik dan digelar di Mal, bukan hotel.

“Kami masukan materi personal intelegent dan nilai-nilai budaya kepada peserta didik kami. Agar merak selain memiliki keahlian, juga memiliki perilaku yang baik di masyarakat. Paling tidak setelah lulus, mereka juga membawa citra LKP Color Model,” ujar Nyudi yang pernah meraih Peserta Terbaik II TOT Pedagogi Landragogi Th.2009 Tingkat Nasional.

Konsep pendidikan berbasis budaya, kata Nyudi, adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk memenuhi standar nasional pendidikan yang diperkaya dengan keunggulan komparatif dan kompetitif berdasar nilai-nilai luhur budaya agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi diri sehingga menjadi manusia yang unggul, cerdas, visioner, peka terhadap lingkungan dan keberagaman budaya, serta tanggap terhadap perkembangan dunia.

Nyudi memaparkan, nilai-nilai luhur budaya tersebut meliputi 18 macam nilai, yakni: kejujuran, kerendahan hati, ketertiban/kedisiplinan, kesusilaan, kesopanan/kesantunan, kesabaran, kerjasama, toleransi, tanggung jawab, keadilan, kepedulian, percaya diri, pengendalian diri, integritas, kerja keras/ keuletan/ketekunan, ketelitian, kepemimpinan, dan/atau ketangguhan. 

“Pada prinsipnya kami mengajarkan sebuah pembudayaan kepada peserta didik. Menanamkan nilai-nilai luhur Yogyakarta di LKP ini,” ungkap Nyudi yang juga lulusan SMAN 2 Ponorogo.

Konsep tersebut, kata Nyudi, menunjukkan bahwa proses pembelajaran tidak cukup hanya untuk meningkatkan pengetahuan (melalui core subjects) saja, harus dilengkapi dengan berkemampuan kreatif–kritis, berkarakter kuat (bertanggung jawab, sosial, toleran, produktif, adaptif). Di samping itu juga didukung dengan kemampuan memanfaatkan informasi dan berkomunikasi. Dengan demikian keistimewaan DIY harus mampu dikaitkan dengan keistimewaan pendidikan.

“Nilai-nilai adiluhung Yogyakarta kita terapkan dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan sehingga akan memperkuat jati diri dan karakter siswa. Sebenarnya, kami tidak menjanjikan lulusan LKP ini menjadi A, B atau C, tapi yang penting ada perubahan dalam aspek personal, seperti pembawaan diri, berpakaian, bersikap dan bersosialisasi dengan masyarakat," tandas Nyudi.

Pelatihan modeling ini dibagi menjadi dua (2) tingkat, yaitu tingkat dasar dan tingkat terampil. Pelatihan modeling ini ditujukan untuk masyarakat luas usia 13-25 tahun. Sedangkan dalam materi dan metode pengajaran, Nyudi menerapkan model belajar berbasis teknologi, dengan pemanfaatan belajar daring dan melalui video.

“Inovasi dalam dunia pendidikan ini saya kembangkan sesuai dengan perkembangan zaman yaitu memanfaatkan teknologi. Karena, menurut saya bicara tentang pendidikan nonformal (PNF) tidak hanya sekedar pendidikan yang terpinggirkan, tapi bagaimana mengangkat PNF bisa menjadi alternatif pilihan pendidikan baik sebagai pelengkap, penambah atau pengganti pendidikan formal. Jadi sentuhan teknologi diperlukan disini,” papar lulusan S2 UNY yang mengambil konsentrasi pendidikan luar sekolah ini.

Keahlian dan teknologi juga diterapkan dalam persentasi Apresiasi GTK dan PAUD 2018 kemarin. Nyudi meraih juara 1 nasional setelah memodifikasi pembelajaran dengan model video tutor. Ia menampilkan pembelajaran sanggul modifikasi bokor mengkurep dengan strategi kreasi video tutorial.

“Dalam KBM selama ini peserta didik hanya meniru apa yang dicontohkan instruktur. Tidak ada kreativitas yang muncul untuk membuat sanggul. Dengan kreasi 2 video tutorial yang ditampilkan instruktur maka peserta memiliki ide kreasi untuk menciptakan bentuk sanggul yang variatif, tidak sama seperti contoh. Karakter kreatif disini yang berkembang,” papar Nyudi, yang juga pemilik akun ig  @nyudi_dwijo @asmatpro_modelejogja.

Kiprah Nyudi dalam meningkatkan budaya bukan hanya melalui jalur pendidikan saja. Nyudi yang dikenal sebagai MC, desainer juga korografer, juga giat menggelar beberapa even budaya, baik pameran, lomba tata rias, fashion show. Baik lokal maupun nasional. Salah satunya Jogja Fashion Parade (JFP), agenda tahunan yang sudah berjalan lima tahun tersebut turut mengundang sejumlah desainer dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bandung, Bekasi, Solo, Magelang hingga Bali. Bahkan even yang menjadi berita nasional dan daya tarik tersendiri, Nyudi mampu mengajak Menteri BUMN Rini Soemarno bersama sejumlah Direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ikut serta dalam acara pagelaran busana atau fashion show di De Tjolomadoe, Karanganyar, Jawa Tengah, April lalu. Saat ini, menjadi koreografer even nasional di Yogya.

Berbagai penghargaan pun telah diraih Nyudi. Namun bagi Nyudi, semua itu bukan untuk dibanggkan tetapi menjadi refleksi dan demi kamajuan dan kejayaan budaya Indonesia.

“Saya bergerak dan melakukan semua ini terpanggil untuk kemajuan dan eksistensi budaya Indoneisa. Pembelajaran berbasis budaya ini pun sebagai upaya untuk mengenalkan dan melestarikan budaya, khususnya Yogyakarta kepada generasi sekarang dan yang akan datang. Selain itu juga untuk mengenalkan budaya Yogyakarta kepada para pendatang,” pungkas Nyudi.(****)

Semua Berita