Ditjen PAUD-DIKMAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini
dan Pendidikan Masyarakat

Siti Badriyah - Entaskan Buta Aksara dan Selamatkan Alam

Siti Badriyah - Entaskan Buta Aksara dan Selamatkan Alam
Siti BAdriyah

11 Desember 2018 07:38:20

Kepedulian terhadap lingkungan, alam dan masyarakat. Melahirkan berbagai ide dan inovasi untuk turut serta melestarikan. Hal itu dilakukan Siti Badriyah, melakukan berbagai terobosan menuntaskan buta aksara dan memberdayakan warga sekitar tempat tinggalnya. Pendiri PKBM Sembada itu menyelenggarakan pendidikan berbasis lingkungan. Setiap pembelajaran terintegrasi dengan lingkungan alam yang ada di pedesaan. Bahkan, kaum perempuan desa yang menjadi warga belajarnya telah sadar akan kelestarian lingkungan, juga telah mampu membangun usaha mandiri serta meningkatkan peran dan pendapatan sebagai seorang perempuan dalam membantu ekonomi keluarga.

Siti Badriyah, mantan pamong SKB Gunungkidul ini, memiliki segudang aktivitas di bidang pendidikan nonformal yakni melakukan upaya pemberantasan buta aksara di berbagai daerah yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Beberapa terobosan Siti dalam pendidikan keaksaraan itu adalah memberikan pendidikan membaca dan berhitung sekaligus menyadarkan masyarakat agar peduli terhadap lingkungan. Dengan nama aktivitas belajar CALISTUNG DASI (baca, tulis, hitung dan aksi).

“Pendidikan keaksaraan yang lebih bermakna, dan mudah dipahami warga di sini. Selain belajar membaca, mereka juga memahami apa yang dipelajarinya. Dan sadar akan kelestarian alam,” kata Siti kepada Warta PAUD dan Dikmas.

Menurut ibu tiga putra ini, pendidikan berbasis lingkungan itu didasari oleh kondisi dan kebiasaan kurang baik warga desa Dengok yang selalu menebang pohon tanpa menanam kembali, sehingga debit air berkurang. Akibatnya masyarakat pun jika musim kemarau sering kesulitan air.

“Saya berpikir, selain karena pendidikan warga yang masih kurang dan kebiasaan yang tidak baik terhadap alam sekitar. Maka saya ajak warga untuk belajar huruf dan membaca sekaligus menyadarkan mereka akan alam lingkungan,” ujar Siti.

Pernah, Siti terpaksa minta air di rumah tetangga untuk kebutuhan sehari-hari akibat kayu di hutan banyak yang dicuri, musim tidak menentu sehingga debit air menurun. “Sumur saya sampai dibor lagi empat meter,” katanya.

Memulai kiprahnya, Siti mendirikan PKBM Sembada pada tahun 2002. Kegiatannya mengentaskan buta huruf dengan mengenalkan baca, tulis dan hitung (calistung) pada warga. Siti memanfaatkan barang-barang yang dekat dengan warga sebagai media pembelajaran. Misalnya, huruf dalam bungkus mi instant, teh, dan lainnya.

“Alhamdulillah, warga di sini sudah melek huruf. Kecamatan Playen yang dulu terdapat lebih dari 700 warga buta huruf, kini telah dientaskan. Sudah ada ribuan warga Gunungkidul yang ikut pendidikan keaksaraan ini,” kata Siti.

Tak ingin berhenti setelah warga bisa calistung, Siti membuat program penguatan ekonomi kepada 20 perempuan usia 40-70 tahun dengan membentuk Paguyuban Aksara Green di kampungnya, Dengok V. Dua ruang yang berada di rumahnya, dibuat tempat kerja, dimanfaatkan sebagai gudang sampah dan kegiatan warga setiap hari Minggu Kliwon.

Sampah dari plastik didaur ulang menjadi aneka kerajinan tangan, seperti bantal kursi, tas dan suvenir. Sampah daun dan rumah tangga dijadikan pupuk kompos. Kegiatan membuat pupuk, kini sudah dilakukan di setiap rumah warga.

Mereka juga menanam rimpang yang dijadikan minuman seduh kemasan dan sudah dijual di pasaran. Warga membuat emping garut, hasil panen di kebun Siti. Hasil penjualan mereka sisihkan untuk simpan pinjam anggota paguyuban.

“Sudah ada Rp 15 juta lho,” ujar Siti tersenyum.

 Wanita yang menjadi Ketua PKBM Sembada Desa Bleberan dan tutor pendidikan nonformal (Keaksaraan dan Kesetaraan) ini menjelaskan, warga belajar keaksaraan fungsional, keaksaraan dasar dan keaksaraan usaha mandiri. Selain mengentaskan masyarakat dari buta aksara, ia juga mengentaskan masyarakat di bidang perekonomian dengan memberikan bekal dalam usaha mandiri.

“Orang yang buta aksara otomatis dekat dengan kemiskinan dan kebodohan. Maka diharapkan setelah mengikuti pembelajaran ini agar warga belajar mampu menggunakannya secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Jadi tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Upaya Siti tak serta merta berjalan mulus. Sempat ia dicibir sebagai perempuan desa yang sering pulang malam.

“Paguyuban pertemuannya malam, ya saya pulangnya malam. Dicibir itu biasa. Lama-lama masyarakat memahami,” kata ibu tiga putra ini.

Di hari keja, Senin hingga Jumat, Siti sulit ditemui di rumahnya yang berada di tengah hutan itu. Ia menghabiskan pagi hingga sore sebagai pamong belajar di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Gunungkidul. Malam harinya, selalu ada kegiatan seperti karang taruna, dasawisma, mengurus paguyuban dan banyak lagi.

“Setiap hari Minggu adalah hari keluarga bagi kami. Ritual kami bersih-bersih dan makan besar sekeluarga,” lirih Siti yang ingin setiap Minggu hari spesial untuk anak-anaknya, meski masih saja ada beberapa kegiatan yang mengusiknya untuk terjun.

Sejak kecil, Siti memang senang berorganisasi terutama pramuka. Siti kecil adalah penggerak aksi menanam pohon di sekolahnya. Setelah menikah dengan Santosa Budi Wiyana pada 1990, kebiasaannya mencintai lingkungan tak pernah padam. Ia menanam pohon jati, kelapa dan buah-buahan di sekeliling rumah. Tumbuhan lain seperti bunga, tumbuh subur meski kontur tanahnya kering dan tandus.

“Bagi saya, yang penting mengikuti kegiatan kelompok dengan senang hati dan kegiatan saya bermanfaat untuk orang lain. Pada intinya bukan hanya sekedar bicara, tetapi mampu menjadi teladan. Itu terkadang yang susah,” ungkapnya.

Perempuan yang kini menjabat sebagai Kasub Bagian Kesehatan dan Pemberdayaan Perempuan, Bagian Administrasi Kesejahteraan Rakyat, Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul itu mengatakan, awal keterlibatannya di bidang lingkungan adalah pada 2004. Saat itu, Ia masuk Paguyuban Pengelola Hutan Rakyat “Ngudi Lestari”. Dari situ, warga Padukuhan Dengok V, Desa Dengok, Kecamatan Playen, Gunungkidul ini, berkenalan dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat dari Korea Selatan. Pada 2005, Siti mengikuti pelatihan di Surabaya dan mendapatkan materi tentang strategi pembelajaran. Materi itu dibawanya ke Gunungkidul dan disebar sebagai bahan pembelajaran pembangunan berkelanjutan.

“Itu membuka wawasan saya tentang pemanasan global. Hati saya terketuk,” kata peraih SheCan Award 2015 atau wanita inspiratif yang sukses mewujudkan perubahan yang lebih baik bagi dirinya sendiri, keluarga serta lingkungan di sekitarnya.

Selain itu, Siti Badriyah juga menggagas sertifikasi hutan rakyat di Desa Dengok Kecamatan Playen. Atas upayanya, pada 2006, hutan rakyat seluas 229,10 hektare di Desa Dengok berhasil disertifikasi. Sejak itu tidak ada lagi sistem tebang butuh. Bagi warga yang menebang satu pohon, diwajibkan menanam lima pohon. Sampah harus dipilah, dijadikan pupuk dan barang kebutuhan lain siap pakai.

Siti menjelaskan, awalnya PKBM Sembada mengampu 5 desa yakni Desa Bleberan, Getas, Ngleri, Logandeng dan Banaran. Sedangkan pada tahun 2009, pemberantasan buta huruf hampir ada di setiap kecamatan di Gunungkidul. 

Pengagum Ki Hadjar Dewantara ini menjelaskan, mengajak warga untuk memahami akan pentingnya belajar bukan perkara yang mudah. Hal ini ditambah dengan mayoritas penyandang buta huruf warga Gunungkidul rata-rata berusia 40 tahun ke atas. Dalam usia tersebut, faktor daya tangkap baik pendengaran, daya ingkat, penglihatan mulai berkurang sehingga daya serap pun menurun.

Dalam hal inilah para tutor harus lebih sabar dan telaten. Selain itu, warga belajar yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, maka ketika musim tanam atau panen proses pembelajaran berhenti dan membuat kesepakatan untuk diganti di hari lain dengan waktu sesuai kesepakatan untuk menempuh kompetensi yang telah ditentukan. Untuk meningkatkan minat warga belajar, ia memberikan dana pembelajaran usaha untuk latihan praktek dan keterampilan sesuai yang diminatinya.

Selain di bidang tersebut, ia juga aktif dalam dasawisama, karangtaruna dan paguyuban. Ia membentuk Paguyuban Aksara Green di Dengok V dengan kegiatan mendaur ulang sampah menjadi kerajinan berdaya guna seperti souvenir, tas dan sebagainya. Hasil kerajinan tangan warga belajar berupa bantal dari sampah kemasan, pupuk kompos, jamu instan, dll. Sedangkan kerajinan kriya berupa mebel kayu.

Pada tahun 2009, paguyuban yang dirintisnya merilis koran Ibu Media Informasi Pendidikan Keaksaraan Kreatif yang diterbitkan setahun 2 kali. Majalah tersebut memuat edukasi warga tentang pembuatan kompos, resep makanan sehat, dan berbagai informasi tentang lingkungan. Uniknya lagi, tulisan tangan warga yang dulu buta huruf tersebut discan dan dimuat di majalah. Dicetak sebanyak 500 eksemplar, dibagikan gratis bagi warga setempat dan desa lain.

“Isi tulisan warga macam-macam, saya bangga. Ada yang bercerita tentang masa mudanya, tentang keluarganya. Senang banget saya, mereka juga senang membaca tulisannya sendiri di majalah jadi kan mereka itu tambah bersemangat,” kata lulusan jurusan Pendidikan Matematika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa pada tahun 1989.

Tidak berlebihan, bila upaya perempuan kelahiran 5 September 1967 ini memperoleh berbagai penghargaan dan prestasi, baik bidang pendidikan maupun lingkungan. Tahun 2012, Siti mendapat penghargaan Kalpataru dari Presiden RI. Sebagai pamong belajar, Siti mendapat nominasi kategori pengabdi lingkungan. Siti Badriyah tidak menyangka mendapat anugrah predikat pelestari lingkungan. Sebab baginya menjaga lingkungan adalah rutinitas yang tidak spesial.

“Saya tidak pernah berharap akan mendapat penghargaan. Semua saya lakukan atas dasar ikhlas, sejak kecil didik untuk berorganisasi karena saudara banyak biasa bekerja dengan teamwork, bisa memberikan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain itu sudah bahagia buat saya,” ungkap istri dari Santosa Budi Wiyana.

 

Kegigihan Siti dalam pendidikan masyarakat dan pelestarian lingkungan yang dilakukan secara terus-menerus ini, akhirnya mampu mengubah pandangan warga dalam menyikapi alam sekitar. Kini alam rusak dan kekurangan air, tinggal kenangan. Bahkan jiwa wirausaha semakin tertanam dalam jiwa setiap warga kampung Dengok. Mata hati masyarakat pun terbuka untuk menyelamatkan lingkungan dan untuk terus belajar. Mereka belajar sepanjang hayat, sekaligus selamatkan alam.(***)

Semua Berita