Ditjen PAUD-DIKMAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini
dan Pendidikan Masyarakat

TBM Ar-Rasyid, Aceh Besar - Merajut Asa Lewat Membaca

TBM Ar-Rasyid, Aceh Besar - Merajut Asa Lewat Membaca

11 Desember 2018 07:27:53

Membaca menjadi aktivitas yang tidak bisa lepas dalam belajar dan pendidikan. Pengetahuan yang didapat dari membaca memungkinkan warga dapat menyerap ilmu, dan bisa merubah kehidupan masyarakat. Membaca juga bisa menjadi salah satu terapi bagi korban bencana alam, seperti tsunami Aceh 2004.

Hal tersebut disampaikan Alfiatunnur, pendiri Taman Bacaan Ar-Rasyid, Baitussalam, Aceh Besar, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Alfiatunnur alias Dedek mengatakan, saat tsunami melanda, anak-anak disembuhkan, salah satunya dengan trauma healing dari buku. Diketahui pada 2004, saat dirinya membantu penanganan korban tsunami. Dedek menceritakan, seorang relawan menitipkan anak perempuan yang kehilangan seluruh keluarganya. Korban tidak pernah bicara saat tinggal di kantor lembaga kemanusiaan, yang saat itu belum bernama.

“Kondisi korban berubah, saat diberikan buku dari para donatur. Korban menghabiskan waktu dengan buku, hingga bisa kembali beraktivitas. Korban juga tak keberatan, jika ada anak yang minta dibacakan atau bertanya isi buku,” ungkap Alfiatunnur.

Terapi pemulihan dimulai saat korban mulai bisa membuka diri. Perbaikan kesejahteraan dan terapi menjadi motivasi Dedek untuk mencari dana bagi Yakesma dan mendirikan TBM Ar-Rasyid. Setiap hari, ia berkeliling membawakan buku, boneka, puzzle, serta berbagai donasi yang bisa didistribusikan.

Dari 2005 hingga 2007, Alfiatunnur mengelola Warung Baca Anak (Wacana). Wacana merupakan komunitas gerakan literasi yang berpusat di Jakarta. Kelompok ini mengontrak rumah sederhana di Panteriek, Banda Aceh, tak jauh dari perumahan korban tsunami.

Saban hari, anak-anak korban tsunami mengisi waktu luang dengan membaca di Wacana. Mereka saling berinteraksi. Wacana akhirnya bukan sekadar tempat membaca buku, tapi menjadi tempat mereka bertemu dan saling menguatkan satu sama lain.

”Dari sini, inspirasi dan motivasi kepada seorang anak dimulai. Membaca adalah membangun mimpi baru dari sebuah fiksi menjadi realita,” kata Alfiatunnur.

Bagi Dedek, mendirikan TBM adalah cita-citanya sejak lama. Sejak tahun 2000, Dedek sudah aktif menjadi relawan dan bergerak di bidang pendidikan, perempuan dan anak.

"Nah, sejak saat itulah kemudian saya bertekad untuk membantu anak dan perempuan di Aceh bersama teman-teman. Kami melakukan apa yang bisa kami lakukan, termasuk mengumpulkan aneka buku dan membagikannya kepada anak-anak di kamp pengungsian dan desa-desa,” kenang Dedek.

Hingga suatu saat, kisah Dedek, mendapat kesempatan dan peluang pascabencana gempa dan tsunami di Aceh untuk mewujudkan cita-citanya mendirikan sebuah Youth Centre di Aceh, yang di dalamnya terdapat sebuah taman bacaan masyarakat.

“Perjuangan yang panjang dan cukup melelahkan, saya dan beberapa teman berhasil mendirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Aceh (Yakesma) dengan perjalanan yang cukup berliku, dan kemudian juga mendirikan TBM,” jelas lulusan program beasiswa fullbright Amerika Serikat ini.  

Di Yakesma sendiri, kata Dedek, mereka juga menampung anak-anak yang kurang mampu untuk bisa melanjutkan pendidikan.

“Ada 30-an anak di sini, dan sebagian mereka itulah yang kita berdayakan untuk menjadi relawan di TBM, khususnya yang sudah mahasiswa. Hal ini bertujuan agar mereka bisa mengaplikasikan semua ilmu yang diterima di kampus dalam kehidupan sehari-hari,” sebut pengajar di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh ini.  

Perjalanan TBM tidak semulus perkiraan Dedek. Meski dapat dukungan dari masyarakat sekitar, namun tidak sedikit juga yang menentang sehingga melarang anak-anak mereka datang ke TBM untuk menikmati buku. Energi Dedek pun sempat terkuras habis dalam proses pendirian Yayasan Yakesma, namun mendapat dukungan moral yang kuat dari komunitas Taman Bacaan Masyarakat Indonesia (TBMI). Akhirnya pada tahun 2012, Dedek memulai pendirian taman bacaan dengan menyulap sebuah garasi di komplek Yakesma menjadi taman bacaan masyarakat.

“Menggunakan kendaraan, kami berpindah-pindah, sampai 2006, hingga akhirnya menempati rumah sewa di Banda Aceh,” sebutnya.

Pada 2005, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di Aceh Besar mempercayakan pinjam pakai tanah seluas 9 hektar pada Rotary International District 3400. Pengelolaan gedung dipercayakan kepada Dedek, sebuah penghormatan pihak Rotary Club kepadanya karena merupakan inisiator project. Dedek diangkat ketua yayasan yang berperan sebagai pembuka hubungan antara Rotary Club dengan pemerintah terkait, sebab Rotary tidak dapat ikut campur. Di lahan tersebut juga terdapat ruang serbaguna, PKBM, PAUD, asrama anak yatim piatu, rumah sakit, lapangan futsal, kebun, musala dan hostel juga sarana olahraga, kolam ikan, persawahan dan lainnya. Pembangunannya didanai Rotary International District 3400.

“Bupati Aceh Utara saat itu, Tarmizi A Karim, melalui Keputusan Bupati Aceh Utara Nomor 012/521/2005 memercayakan pinjam pakai tanah milik Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di Kabupaten Aceh Besar kepada Rotary Club D3400 yang di dalamnya dibangun Youth Center. Rotary memberikan dana dengan syarat harus ada tanah untuk pembangunan,” tuturnya.

Meskipun sudah menempati gedung permanen, tidak serta perjalanannya mulus. Bahkan, tantangan tak terbilang. Sekolah gratis yang didanai Australia harus tutup karena tidak mendapatkan izin operasional pemerintah Aceh sehingga bantuan dialihkan ke Sri Lanka.

“Pada 2012, kami membangun sekolah gratis, selama tiga tahun berdiri tidak mendapatkan izin dan akhirnya tutup. Bahkan anak asuhnya juga mendapatkan diskriminasi, dia menang kaligrafi tingkat kecamatan tetapi tidak mendapatkan izin untuk ikut lomba tingkat kabupaten,” terangnya.

Tantangan lainnya, masyarakat sekitar masih melihat kegiatan-kegiatan yang digagas sebatas proyek, belum merasa sepenuhnya memiliki sehingga optimal berkreativitas dan berinovasi. “Saya berkeinginan menanam rasa di masyarakat untuk memiliki kegiatan ini. Masih ada orangtua yang melarang anak-anak datang ke TBM untuk membaca. Pemerintah pun belum mengakui keberadaan TBM Ar-Rasyid,” sebutnya.

Kawasan Yakesma di daerah bekas konflik dan kawasan terparah dilanda tsunami membuat masyarakat masih dalam proses menghilangkan orientasi mengharap donasi. Proses pengikisan itu perlu waktu lama.

“Meski demikian, pelan-pelan ada yang senang melihat kegiatan kami, ada yang ikut berpartisipasi,” tandasnya.

Kendati begitu, Dedek mensyukuri operasional yang terus berjalan

“Kita dapat buku baru, misalkan pada 2012, kami mendapatkan dana zakat sebanyak Rp30 juta, lalu saya gunakan membeli buku semua. Jadi soal keuangan memang tidak memiliki kas khusus, tetapi ada saja uang itu,” kata lulusan Educational Leadership of University of Arkansas itu.

Bahkan, baru-baru ini mereka juga baru menerima dana dari Rotary Club Bandung yang berkunjung langsung ke lokasi. “Baru-baru ini ada biaya bulanan sebesar Rp200 ribu untuk relawan selama satu tahun, harus disyukuri karena itu pemberian orang,” jelasnya.

Selain donatur tetap pun bantuan insidental, Dedek pun mengoperasikan pusat pelatihan yang keuntungannya disisihkan.

Namun, khusus untuk TBM, langkahnya tak terbendung. TBM-TBM baru dicetak dengan mendistribusikan buku ke Singkil, Pulau Banyak, Meulaboh, Pidie, hingga Aceh Utara. Pojok-pojok baca pun dibangun di meunasah atau pesantren dan TPA di Aceh Besar.

“Padahal, kami juga ingin membuka pojok baca di halte Trans-Kutaraja di Banda Aceh, tapi belum mendapatkan respons. Kami menghubungi wali kota agar mendukung pembuatan tempat meletakkan buku di halte agar kota terlihat berpendidikan dan edukatif, tetapi belum direspons,” sebutnya.

Selain pojok baca di Aceh Besar, TBM juga mengelola fasilitas serupa di areal Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Aceh (Yakesma). Pojok baca terletak di tempat strategis, misal dekat areal bermain atau aula pertemuan. Selanjutnya, pemberdayaan 100 gelandangan dan pengemis atau gepeng di Aceh. Mereka nantinya, akan mendapatkan modal usaha Rp5 juta serta pembinaan selama dua tahun. “Jadi mereka yang tidak punya rumah akan tinggal di Yakesma dan akan dibina. Bila ada anak, akan disekolahkan dan ibunya dikasih dana Rp5 juta untuk usaha, target pembinaan dua tahun harus punya simpanan dan bisa mandiri,” paparnya.

Dedek berharap programnya untuk Aceh selama 13 tahun ini diregenerasi. Bahkan, sebagian anak didiknya jadi pelaksana dan penerus sehingga ide tidak mati dan lebih berkembang.

“Secara umum TBM tidak hanya menjadi tempat koleksi buku karena kalau cuma buku, sudah ada perpustakaan. Jadi TBM menjadi tempat bagi orang lepas dan cepat berkreasi dalam suatu frame pendidikan. Kemajuan itu bisa muncul dari TBM karena memang fleksibel, tidak terikat dan terbeban. Oleh karena itu, mereka bisa santai dan tidak ribet,” jelasnya.

Pendidikan, kata Dedek, ialah kunci kemajuan ekonomi. “Saat ini yang paling penting, mindset masyarakat, pendidikan, dan perekomian akan jadi solusi sekaligus sumber masalah. Saya harap pemerintah melihat ini kesempatan menggali potensi dari level masyarakat,” pungkasnya.

Saat ini, lanjut Dedek, TBM Ar Rasyid memiliki buku yang beredar 12 ribu dengan anak asuh 35 serta relawan tetap 12 orang. “Namun jika ada kegiatan, relawan pasti bertambah karena ada mahasiswa, termasuk yang baru pulang dari luar negeri,” ujar Dedek

Ketua TBM Ar-Rasyid Periode 2017, Eni Darlia, menyebutkan, demi mengembangkan sayap TBM ke tengah masyarakat, TBM Ar-Rasyid pun membentuk empat pojok baca di empat dusun di sekitarnya. Masing-masing Dusun Lambateung, Dusun Rekompak, Dusun Keude Aron dan Dusun Gampong Meurah.  

“Di sini kami bertujuan untuk melibatkan masyarakat sebagai pengelola TBM sehingga keberadaan TBM semakin dekat dengan masyarakat, dan ini juga sekaligus bertujuan untuk meningkatkan kebiasaan warga untuk membaca. Jadi ada alasan untuk orang tua mengarahkan anak-anaknya untuk memilih TBM sebagai tempat bermain dan belajar,” jelas Eni.

Pojok baca Lambateung lebih fokus pada anak, memulai kegiatannya pada sore hari. Pojok Baca Gampong Meurah menyediakan sesi khusus untuk para ibu di hari Jumat. Kaum ibu bisa membicarakan kegiatan pojok baca, mengaji, atau merancang aktivitas untuk kelompoknya. Pojok baca juga membolehkan pesertanya meminjam buku, yang harus dikembalikan dalam dua hari. Anak yang lebih dewasa dipercaya mencatat sirkulasi, atau menagih buku yang belum kembali.

Eni menjelaskan, para ibu mengelola sebagian besar pojok baca TBM Ar-Rasyid. Hal ini memungkinkan para ibu melakukan aktualisasi diri, sambil menyelesaikan urusan rumah tangga. TBM tak hanya bermanfaat bagi anak, tapi juga penduduk di segala jenjang usia.

TBM Ar-Rasyid sebetulnya menyediakan wadah beraktivitas bagi para bapak. Eni mengatakan, kegiatannya dilaksanakan pada malam hari usai jam kerja berakhir. Kegiatan para bapak fokus pada aktivitas bermasyarakat.

Peran aktif masyarakat menjadi kunci utama keberadaan TBM. Menjadi pengelola memungkinkan masyarakat tak asing dengan TBM dan kegiatan membaca. Orangtua yang yakin manfaat kegiatan di TBM tak ragu mengarahkan anaknya bermain dan belajar di fasilitas tersebut.  

Ketua TBM Ar-Rasyid Eni Darlia mengatakan, minat baca anak sebetulnya tak bisa dikatakan rendah. Anak sebetulnya tertarik dengan segala jenis buku yang tersaji di depannya. Terlebih bila buku penuh dengan aneka gambar, warna, dan artikel menarik.

Keterbatasan akses menjadi penyebab utama anak tak akrab dengan buku. Tak semua anak bisa menjangkau buku berkualitas baik dengan mudah. Harga yang relatif mahal juga tak selalu sesuai dengan kemampuan orang tua.

“Anak pasti baca asal ada akses ke buku,” katanya.

 Eni mengatakan, TBM Ar-Rasyid sendiri hampir tak pernah tutup. Selalu ada kegiatan di tempat tesebut mulai pagi hingga malam hari. Gedung TBM ditutup pukul 22.00 WIB jika tak ada lagi kegiatan.

TBM memulai aktivitasnya sebagi tempat penitipan anak (daycare) pada pukul 8 pagi. Ar-Rasyid juga menyediakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi masyarakat di sekitarnya. Eni mengatakan, kegiatan membaca baru dimulai pada siang hari sekitar pukul 13.30 waktu setempat.

Kegiatan membaca biasa diikuti siswa sekolah dasar dari berbagai kelas. Membaca biasa diselingi pemberian pelajaran tambahan dari kakak pendamping. “Anak-anak juga bisa mencari sumber pustaka sehingga mereka betah di TBM,” kata Eni.

TBM juga menyediakan materi pemberdayaan masyarakat, lewat pelajaran budidaya tanaman dan hewan. Eni mengatakan, TBM tentunya harus terus berinovasi sesuai kebutuhan masyarakat sekitar. TBM yang berawal dari sebuah garasi harus membuktikan manfaatnya bagi lingkungan.

Kini, TBM Ar-Rasyid sudah dilirik dan diakui berbagai pihak, juga meraih berbagai penghargaan dan prestasi di antaranya sebagai Juara 3 dan Favorit Gramedia Reading Community Competition (GRCC) 2016 Regional Sumatera, juga Juara III Nasional Pengelola Taman Bacaan Berprestasi Tahun 2018.

Eni yakin membaca bisa membawa kebaikan bagi warga Aceh Besar. Membaca seharusnya menjadi bagi dari aktivitas keseharian, tanpa memandang rentang usia. Pola pikir makin baik seiring bertambahnya pengetahuan, yang memberi dampak baik pada kesejahteraan warga.(***)

Semua Berita