Ditjen PAUD-DIKMAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini
dan Pendidikan Masyarakat

Pendanaan PAUD di Asia Pasifik Masih Minim

Pendanaan PAUD di Asia Pasifik Masih Minim
Para peserta pertemuan negara-negara di Asia Pasifik tentang Inovasi Pendanaan Program PAUD berdiskusi bersama. (foto: Dokumentasi Ditjen PAUD dan Dikmas)

27 September 2018 15:01:00

Denpasar. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sangat penting sebagai pondasi pendidikan anak-anak di masa depan. Namun, pengembangan program PAUD di wilayah Asia Pasifik, termasuk Indonesia terkendala minimnya anggaran.

Berdasarkan data terakhir yang dirilis UNESCO Institute for Statistic (UIS) tahun 2015, hanya 3 negara di Asia Pasifik yang mengalokasikan anggaran di atas rerata anggaran yang direkomendasikan oleh OECD, atau sebesar 1,1 persen dari total anggaran pemerintah. Negara tersebut adalah Vietnam, Kyrgyzstan dan Mongolia. Sedangkan anggaran PAUD di negara lainnya, termasuk Indonesia masih di bawah rerata tersebut.

Oleh karena itu, sebanyak 16 negara di Asia Pasifik berkumpul untuk membahas inovasi pendanaan program PAUD, di Sanur, Bali pada tanggal 24 dan 25 September 2018. Negara tersebut antara lain Australia, Singapura, Malaysia, Fiji, dan Thailand, dan Bhutan.

"Dengan anggaran PAUD yang terbatas maka negara negara di Asia Pasifik menghadapi tantangan untuk mencapai salah satu target SDG’s di tahun 2030 yakni memberikan layanan PAUD yang berkualitas," ujar Dwi Priyono Direktur SEAMEO Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (CECCEP), Selasa (25/9).

Pertemuan negara-negara di Asia Pasifik tersebut bertajuk Regional Consultation Workshop on Innovative Financing Mechanism and Partnership for Early Childhood Care and Education. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, SEAMEO CECCEP, UNESCO Bangkok dan Korea Trust in Fund.

Dwi menyebutkan, pertemuan ini bertujuan untuk mencari inovasi pendanaan program PAUD yang paling tepat. Pada kegiatan ini, sejumlah negara memaparkan praktik baik tentang pendanaan program PAUD di negara masing-masing, sehingga diharapkan dapat menjadi contoh bagi negara lain. Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah pembicara dari Amerika Serikat dan Kobe University, Jepang. Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan buku pedoman inovasi pendanaan PAUD dan mekanisme kemitraan untuk kawasan Asia Pasifik.

Maki Hayashikawa, Direktur UNESCO Bangkok mengatakan terdapat tiga tantangan dalam pembiayaan program PAUD. yakni minimnya alokasi anggaran, belum adanya kesinambungan anggaran, dan kurangnya koordinasi anggaran antar instansi yang menangani  program PAUD. “PAUD sangat penting bagi masa depan sebuah negara, anak-anak usia PAUD adalah calon pemimpin masa depan yang harus dipupuk sejak dini. Oleh karena itu, PAUD bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun juga swasta, organisasi sosial, dan seluruh masyarakat,” ujarnya. (Yohan Rubiyantoro/Subdit Kemitraan)

Semua Berita